Anggaran Rumah Tangga PATRIA

ANGGARAN RUMAH TANGGA

BAB I
ATRIBUT PERKUMPULAN

Pasal 1
Semboyan

Perkumpulan mempunyai semboyan Per Ecclesiam Pro Patria.

Pasal 2
Bendera

Perkumpulan mempunyai Bendera dengan desain sebagai berikut :
1. Kain bendera berbentuk persegi panjang dengan warna dasar putih.
2. Di tengah bendera terdapat lambang Perkumpulan sesuai Anggaran Dasar.

Pasal 3
Mars

Perkumpulan mempunyai lagu mars berjudul PATRIA.

Pasal 4

Bentuk, jenis, ukuran, warna, makna dan/atau kekhasan lain sehubungan dengan atribut Perkumpulan diatur lebih lanjut dalam peraturan Perkumpulan.

BAB II
KEANGGOTAAN

Pasal 5
Hak Anggota

Setiap dan semua anggota berhak :
a. Memilih dan dipilih dalam pemilihan pengurus.
b. Menghadiri rapat-rapat Perkumpulan yang relevan, membaca dokumen-dokumen, dan mengikuti kegiatan-kegiatan Perkumpulan.
c. Memberikan kritik, saran, dan usul untuk kemajuan Perkumpulan.
d. Membela diri dalam sengketa.

Pasal 6
Kewajiban Anggota

Setiap dan semua anggota berkewajiban :
a. Menjunjung tinggi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan peraturan Negara yang sah.
b. Menaati Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga dan peraturan-peraturan lain yang bersifat mengikat dan berlaku dalam Perkumpulan.
c. Mengikuti prinsip bahwa kepentingan Perkumpulan, masyarakat, dan Negara berdiri di atas kepentingan pribadi.
d. Menegakkan solidaritas, persatuan, kesetiaan, dan kejujuran.
e. Menjaga martabat dan kehormatan Perkumpulan dan Negara.
f. Menjaga hubungan erat dengan masyarakat setempat.

Pasal 7
Penerimaan Anggota

1. Untuk menjadi anggota Perkumpulan, alumni (Anggota Penyatu) PMKRI wajib mengisi formulir dan mendapat verifikasi dari pengurus tingkat terdekat.
2. Kartu Tanda Anggota diberikan oleh Dewan Pimpinan Pusat.

Pasal 8
Pengunduran Diri Anggota

1. Dalam hal pengunduran diri, yang bersangkutan wajib membuat surat pengunduran diri dan menyerahkannya kepada pengurus tingkat terdekat.
2. Selanjutnya pengurus setempat melaporkannya kepada Dewan Pimpinan Pusat, dan membuat pengumuman penghapusan nama yang bersangkutan dari daftar nama anggota dalam Perkumpulan.

Pasal 9
Pemecatan Anggota

1. Anggota dapat dipecat jika melakukan pelanggaran terhadap peraturan negara ataupun peraturan Perkumpulan.
2. Dalam hal pemecatan, yang bersangkutan berhak melakukan pembelaan diri dalam forum yang tersedia untuk itu.
2. Proses pembelaan diri mengikuti pasal penyelesaian sengketa.

BAB III
STRUKTUR PERKUMPULAN

Pasal 10

Susunan Dewan Pimpinan Pusat terdiri dari :
a. Ketua Umum
b. Wakil Ketua Umum
c. Sekretaris Jenderal
d. Wakil Sekretaris Jenderal
e. Bendahara Umum
f. Wakil Bendahara Umum
g. Ketua-Ketua Departemen

Pasal 11
Ketua Umum

1. Ketua Umum merupakan penanggung jawab ke luar dan ke dalam Perkumpulan.
2. Ketua Umum dibantu oleh Wakil (-wakil) Ketua Umum untuk membawahi bidang-bidang kepengurusan.
3. Dalam keadaan mendesak, Ketua Umum memiliki kewenangan khusus untuk mengambil kebijaksanaan sesuai kepentingan dan kebutuhan Perkumpulan.
4. Dalam hal Ketua Umum menggunakan kewenangan khusus untuk mengambil kebijaksanaan, segera harus disampaikan dalam Rapat Dewan Pimpinan Pusat.

Pasal 12
Wakil Ketua Umum

1. Wakil Ketua Umum berfungsi secara kolektif kolegial dengan Ketua Umum.
2. Dalam hal Wakil Ketua menggunakan kewenangan untuk mengambil kebijaksanaan, wajib dikoordinasikan dengan Ketua Umum dan segera disampaikan dalam Rapat Dewan Pimpinan Pusat.
3. Tugas dan wewenang Wakil Ketua diatur lebih lanjut dalam peraturan Perkumpulan.

Pasal 13
Sekretaris Jenderal

1. Sekretaris Jenderal adalah pelaksana manajemen, administrasi, sekretariat, dan surat-menyurat Perkumpulan.
2. Sekretaris Jenderal dibantu oleh Wakil (-wakil) Sekretaris Jenderal untuk membawahi bidang-bidang kepengurusan dan administrasi.

Pasal 14
Bendahara Umum

1. Bendahara Umum adalah pelaksana manajemen pendanaan, inventarisasi kekayaan dan logistik Perkumpulan, rekening Perkumpulan, dan administrasi keuangan Perkumpulan.
2. Bendahara Umum dibantu oleh Wakil (-wakil) Bendahara Umum untuk mengurus anggaran, pengelolaan kekayaan Perkumpulan, logistik bantuan sosial, dan penggalangan dana dan pengembangan usaha Perkumpulan.

Pasal 15

1. Susunan Dewan Pimpinan Daerah dan Dewan Pimpinan Cabang dapat mengikuti susunan Dewan Pimpinan Pusat.
2. DPD dan DPC berkewajiban melakukan koordinasi dengan DPP secara periodik.

BAB IV
Dewan-Dewan

Pasal 16

1. Dalam menjalankan organisasi, Perkumpulan memiliki dewan-dewan sebagai berikut:
a. Dewan Pengawas
b. Dewan Pendiri
c. Dewan Pembina
d. Dewan Pertimbangan
e. Dewan Penasihat.
2. DPD dan DPC dapat memilih dan membentuk Dewan Pembina, Dewan Pertimbangan, dan Dewan Penasihat.

Pasal 17

1. Anggota Dewan Pengawas memenuhi syarat berikut :
a. Tercatat sebagai anggota Perkumpulan.
b. Memiliki dedikasi dan integritas terhadap kepentingan bangsa dan negara Republik Indonesia.
c. Memiliki kompetensi, pengalaman, dan pengetahuan.
2. Anggota Dewan Pengawas tidak boleh merangkap sebagai anggota Pengurus atau Dewan lainnya.
3. Dewan Pengawas menjabat terhitung sejak Kongres memilih dan mengangkatnya, sampai dengan ditetapkannya Dewan Pengawas dalam Kongres berikutnya.
4. Keanggotaan Dewan Pengawas dapat berakhir sebelum waktunya jika :
a. meninggal dunia.
b. mengundurkan diri.
c. berada dalam kondisi pengampuan (curatele).

Pasal 18
Dewan Pendiri

1. Dewan Pendiri adalah orang-orang yang oleh Kongres ditetapkan sebagai pendiri sekaligus deklarator yang menginisiasi dan mendeklarasikan pendirian Perkumpulan.
2. Dewan Pendiri berhak memberikan usul, saran, dan pendapat dalam rangka menjaga wibawa, spritualitas, dan cita-cita organisasi.
3. Dewan Pendiri berkewajiban menjaga nama baik Perkumpulan.

Pasal 19
Dewan Pembina

1. Dewan Pembina dipilih dalam Kongres dan ditetapkan dengan keputusan Kongres atau Musda atau Muscab, untuk masa jabatan yang sama dengan masa jabatan Pengurus.
2. Dewan Pembina bertugas dan bertanggung jawab untuk memberikan pembinaan-pembinaan agar Perkumpulan dapat berjalan sesuai dengan ketentuan AD dan ART, serta berkembang secara baik dan terarah dalam menjalankan fungsinya untuk mencapai tujuan.
3. Anggota Pembina dapat terdiri lebih dari 1 (satu) orang dan berjumlah ganjil.
4. Apabila terdiri atas lebih dari satu orang, maka satu orang di antaranya sebagai Ketua merangkap anggota, yang bekerja secara kolektif dan kolegial.
5. Anggota Dewan Pembina tidak boleh merangkap sebagai anggota Pengurus atau Dewan lainnya.
8. Keanggotaan Dewan Pembina dapat berakhir sebelum waktunya jika :
a. meninggal dunia.
b. mengundurkan diri.
c. berada dalam kondisi pengampuan (curatele).

Pasal 20
Dewan Pertimbangan

1. Dewan Pertimbangan dipilih dalam Kongres dan ditetapkan dengan keputusan Kongres atau Musda atau Muscab, untuk masa jabatan yang sama dengan masa jabatan Pengurus.
2. Dewan Pertimbangan bertugas dan bertanggung jawab untuk memberikan pertimbangan-pertimbangan kepada pengurus dalam hal:
a. perencanaan dan penyusunan program-program kerja;
b. pelaksanaan program-program; dan
c. pendirian dan pengembangan usaha-usaha organisasi.
3. Anggota Dewan Pertimbangan dapat terdiri lebih dari 1 (satu) orang dan berjumlah ganjil.
4. Apabila terdiri atas lebih dari satu orang, maka satu orang di antaranya sebagai Ketua merangkap anggota, yang bekerja secara kolektif dan kolegial.
5. Anggota Dewan Pertimbangan tidak boleh merangkap sebagai anggota Pengurus atau Dewan lainnya.
6. Keanggotaan Dewan Pertimbangan dapat berakhir sebelum waktunya jika :
a. meninggal dunia.
b. mengundurkan diri.
c. berada dalam kondisi pengampuan (curatele).

Pasal 21
Dewan Penasihat

1. Dewan Penasihat dipilih dalam dan ditetapkan dengan keputusan Kongres atau Musda atau Muscab, untuk masa jabatan yang sama dengan masa jabatan Pengurus.
2. Dewan Penasihat bertugas dan bertanggung jawab untuk memberikan nasihat-nasihat agar Perkumpulan dapat berjalan sesuai dengan ketentuan.
3. Anggota Penasihat dapat terdiri lebih dari 1 (satu) orang dan berjumlah ganjil.
4. Apabila terdiri atas lebih dari satu orang, maka satu orang di antaranya sebagai Ketua.
5. Anggota Dewan Penasihat tidak boleh merangkap sebagai anggota Pengurus atau Dewan lainnya.
6. Keanggotaan Dewan Penasihat dapat berakhir sebelum waktunya jika :
a. meninggal dunia.
b. mengundurkan diri.
c. berada dalam kondisi pengampuan (curatele).

BAB V
RAPAT-RAPAT

Pasal 22
Rapat Pimpinan Nasional

1. Rapat Pimpinan Nasional dihadiri oleh :
a. Peserta
b. Undangan
2. Peserta terdiri atas :
a. Unsur Pengurus Pusat, Dewan Pengawas, dan Dewan lainnya.
b. Unsur Pengurus Daerah
c. Unsur Pengurus Cabang
3. Undangan terdiri atas :
a. Perwakilan institusi
b. Perorangan
4. Jumlah peserta dan undangan ditetapkan oleh Pengurus Pusat.
5. Pimpinan Rapat Pimpinan Nasional dipilih dari dan oleh peserta.
6. Sebelum pimpinan Rapat Pimpinan Nasional terpilih, pimpinan sementara adalah Pengurus Pusat.

Pasal 23
Rapat Pengurus Pusat

1. Rapat Pengurus Pusat dihadiri oleh Ketua Umum, Wakil-wakil Ketua Umum. Sekretaris Jenderal, Wakil-wakil Sekretaris Jenderal, Bendahara Umum dan Wakil-wakil Bendahara Umum, serta Ketua-ketua Departemen.
2. Pengawas Perkumpulan dapat menghadiri setiap rapat Pengurus Pusat.
3. Rapat Pengurus Pusat dipimpin oleh Ketua Umum.
4. Sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali rapat Pengurus Pusat dilaksanakan dengan kehadiran secara lengkap Pengawas, serta departemen dan badan.

Pasal 24
Rapat Koordinasi Khusus

1. Rapat Koordinasi Khusus dihadiri oleh unsur Pengurus Pusat, Pengurus Daerah, dan Pengurus Cabang untuk satu atau beberapa wilayah tertentu.
2. Rapat Koordinasi Khusus dimaksudkan untuk melakukan koordinasi tugas-tugas dan kegiatan-kegiatan Perkumpulan antara Pengurus Pusat dengan Pengurus Daerah dan Pengurus Cabang tertentu, atau apabila ada permasalahan yang perlu diselesaikan dalam mekanisme dan forum koordinasi.
3. Rapat koordinasi khusus dilaksanakan sesuai kebutuhan.

Pasal 25
Rapat Pimpinan Daerah

1. Rapat Pimpinan Daerah dihadiri oleh unsur Pengurus Daerah, dan dapat dihadiri oleh Pengurus Pusat dan Pengurus Cabang.
2. Rapat Pimpinan Daerah dilaksanakan sekurang-kurangnya satu kali di antara dua Musyawarah Daerah.

Pasal 26
Rapat Pimpinan Cabang

1. Rapat Pimpinan Cabang dihadiri oleh unsur Pengurus Cabang dan dapat dihadiri oleh Pengurus Daerah dan Pengurus Pusat.
2. Rapat Pimpinan Cabang dilaksanakan sekurang-kurangnya sekali di antara dua Musyawarah Cabang.

BAB VI
DISIPLIN

Pasal 27

Jika terjadi pelanggaran UUD 1945 dan/atau pelanggaran berat disiplin Perkumpulan oleh anggota maka Perkumpulan dapat secara otomatis mengeluarkan yang bersangkutan dari keanggotaan.

Pasal 28

1. Anggota Perkumpulan yang terkena sanksi, sementara dinonaktifkan dari kegiatan Perkumpulan sambil menunggu proses hukum atau pengajuan banding yang berlangsung.
2. Komite disiplin Perkumpulan berhak memberikan masukan, saran dan nasehat terhadap anggota yang melakukan pelanggaran.
3. Anggota dapat melakukan banding ke komisi disiplin yang lebih tinggi apabila keputusan yang diterima dirasa masih merugikan yang bersangkutan, dan pihak komisi disiplin harus menerima laporan pengaduan tanpa ada alasan penolakan.
4. Pemberlakuan putusan bersalah mulai berlaku 15 (lima belas) hari terhitung setelah tanggal keputusan ditetapkan apabila yang bersangkutan tidak melakukan pembelaan diri atau pengajuan banding.
5. Pemulihan nama atau pengaktifan anggota dapat dilakukan setelah ada putusan komisi disiplin yang dikukuhkan dalam rapat pada tingkatan yang lebih tinggi.
6. Pengurus Perkumpulan yang melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud ayat 1 hanya dapat dibekukan dengan keputusan Pengurus Pusat dan hanya dapat dipulihkan dengan penetapan Kongres Perkumpulan.

BAB VII
KEUANGAN DAN PERBENDAHARAAN

Pasal 29

1. Iuran anggota adalah dana wajib yang diberikan oleh anggota setiap bulan kepada Perkumpulan.
2. Jumlah iuran anggota ditetapkan oleh Dewan Pimpinan Pusat.
3. Pengecualian iuran anggota dapat diberikan bagi anggota yang tidak mampu.
4. Iuran dipergunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan Perkumpulan oleh pengurus Perkumpulan di setiap tingkatan.
5. Sumbangan dan bantuan tetap atau tidak tetap dari masyarakat, orang atau badan, yang menaruh minat pada aktivitas Perkumpulan, bersifat sukarela dan tidak mengikat.

BAB VIII
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 30

1. Pembentukan pengurus Perkumpulan dimulai dari pembentukan pengurus Daerah dan pengurus Cabang.
2. Pengurus Pusat dapat mengambil kebijaksanaan untuk membentuk pengurus Perkumpulan di tingkat paling bawah lebih dahulu atas pertimbangan tertentu.
3. Masa jabatan pengurus Pusat, pengurus Daerah, pengurus Cabang yang dibentuk sebelum Kongres pertama melaksanakan tugas sampai terbentuknya kepengurusan oleh Kongres pertama, Musyawarah Daerah pertama, dan Musyawarah Cabang pertama.

Pasal 31

Semua peraturan Perkumpulan yang diamanatkan oleh Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga harus sudah ditetapkan dan diterbitkan oleh Pengurus Pusat selambat-lambatnya enam bulan setelah penyelenggaraan Kongres.

KETENTUAN PENUTUP
Pasal 32

1. Anggaran Rumah Tangga ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.
2. Hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran Rumah Tangga akan diatur lebih lanjut dalam peraturan Perkumpulan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*